Warning: include(/home/smandasc/public_html/blogsiswa//wp-content/plugins/dynamic-content-gallery-plugin/dynamic-gallery.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /home/smandasc/public_html/blogsiswa/wp-content/themes/business-mag-27/archive.php on line 6

Warning: include() [function.include]: Failed opening '/home/smandasc/public_html/blogsiswa//wp-content/plugins/dynamic-content-gallery-plugin/dynamic-gallery.php' for inclusion (include_path='.:/usr/lib/php:/usr/local/lib/php') in /home/smandasc/public_html/blogsiswa/wp-content/themes/business-mag-27/archive.php on line 6

Archive for the 'Food News' Category

Apr-1st-2009

Tahu dan tempe juga berbahaya…???

Tahukah Anda, jika tempe atau tahu bisa membahayakan kesehatan kita? Tempe dan tahu memang makanan khas Indonesia yang sarat gizi, dan cukup digemari. Namun, bisa jadi, makanan favorit semua kalangan itu terbuat dari kedelai transgenik. Kedelai transgenik adalah kedelai yang dikembangkan melalui proses rekayasa genetik. Proses rekayasa genetik dilakukan dengan menyisipkan sel asing ke dalam tumbuhan tersebut.

Menurut Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Huzna Zahir, banyak produk pertanian impor yang merupakan hasil rekayasa genetik. Produk tersebut antara lain kedelai, jagung, dan kentang. Menurut YLKI, produk makanan transgenik dapat mengakibatkan kelambanan pertumbuhan dan kegagalan reproduksi bagi manusia. YLKI bahkan sudah melakukan pengujian terhadap produk-produk tersebut.


“Tahun 2002 lalu beberapa
tempe dan tahu kita uji. Kemudian (ditemukan) ada beberapa turunan lain. Itu positif transgenik. Tahun 2005 kita konsens ke produk kemasan dan kita temukan ada tiga sampel yang positif dua turunan kentang dan satu turunan jagung pada produk impor jadi. Ada (merek) Prinsley, Mister Potatoes, dan Honig. Dan itu dapat menyebabkan pertumbuhan yang lambat sama kegagalan di reproduksi,” kata Huzna Zahir dalam sebuah konferensi pers.

YLKI juga memaparkan bahwa pengujian terhadap produk makanan transgenik pernah dilakukan di Jerman. Percobaan itu dilakukan dengan memberikan makanan hasil rekayasa genetik terhadap tikus. Anak-anak tikus yang diberi makanan hasil rekayasa genetik memiliki peluang kematian enam hingga delapan kali lebih besar dibandingkan dengan tikus yang tidak diberi makanan produk rekayasa genetik.

“Kalau kita melihat potensi bahaya, penelitian di luar itu ada beberapa contoh yang biasanya dicobakan ke hewan tikus yang dilakukan beberapa kali ke tikus di Rusia. Anak-anak tikus yang diberi makan transgenik peluang matinya itu enam sampai delapan kali dari yang tidak diberi makanan mengandung transgenik,” tambahnya.

Menurut Kepala Badan Pemeriksa Obat dan Makanan, Husnia, semua produk kedelai impor asal Amerika Serikat merupakan kedelai transgenik. Dengan demikian semua produk turunan kedelai impor, seperti tahu, tempe, kecap, dan tauco juga merupakan bahan makanan transgenik yang berbahaya.

Tempe gorengan, tempe yang Anda makan di rumah, keripik tempe yang dijual di Purwokerto, Bandung, tahu Sumedang, semua makanan yang mengandung kedelai ya berasal dari kedelai impor. Karena bahan baku untuk tempe, tahu yang ada di Indonesia dari kedelai impor. Kalau bahannya transgenik, produknya transgenik,” katanya kepada VHR.

Indonesia mengimpor produk transgenik seperti kedelai, jagung, dan kentang dari Amerika Serikat, Kanada, Argentina, dan Australia. Produk itu melenggang masuk ke Indonesia secara bebas, tanpa proses penelitian dan uji keamanan, sebagaimana impor beras dan gula.

Menurut Thamrin Latuconsina, Kepala Divisi Barang Modal Direktorat Impor Departemen Perdagangan, impor kedelai, jagung, ataupun kentang hanya dikenai bea masuk dan beberapa pajak.

“Selama ini, yang kita tangani beras dan gula itu biasanya dilakukan verifikasi di negara muat barang oleh surveyor yang ditunjuk oleh Menperindag. Kepada perusahaan yang bersangkutan, sebelum melakukan impor, harus barangnya diperiksa oleh surveyor. Dan surveyor menerbitkan laporan atas kebenaran barang tersebut baik jumlah, kualitas, atau aspek-spek lain di dalamnya. Kalau terhadap kedelai, kentang, itu impornya kita tidak atur. Itu impornya bebas. Mekanismenya bebas,” kata Thamrin.

Sebenarnya sudah ada perjanjian internasional mengenai perdagangan produk pertanian transgenik, yang tertuang dalam Convention of Bio Diversity atau Konvensi mengenai Keragaman Hayati. Namun, karena Amerika Serikat tidak mau menandatangani konvensi tersebut, negara itu tidak bisa diikat dengan konvensi ini.

Indonesia sebenarnya sudah memiliki banyak peraturan mengenai makanan transgenik. Dalam UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan Pasal 13 Ayat (1) menyebutkan bahwa pangan rekayasa genetika wajib diperiksa keamanannya sebelum diedarkan. Ini diikuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. Pasal 35 Ayat (1) PP tersebut mewajibkan pencantuman keterangan “pangan rekayasa genetika” untuk pangan transgenik.

Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah menandatangi Protokol Cartanegra mengenai keamanan hayati. Indonesia juga telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik. Peraturan ini mengamanatkan berdirinya komite keamanan pangan transgenik yang hingga hari ini belum berdiri. Menurut peraturan pemerintah tersebut, ketua komite itu dijabat oleh Menteri Lingkungan Hidup. Namun, ketika ditanya mengapa komite tersebut belum dibentuk, Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar mengatakan hal ini terhambat masalah teknis.

“Karena antara lain pengumpulan nama jadi masalah teknis saja,” kata Rachmat Witoelar.

Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, konsumen berhak atas keamanan, mendapatkan informasi, memilih, dan mendapatkan ganti rugi, namun hal itu belum sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintah. Pelabelan produk makanan transgenik juga tidak diwajibkan terhadap produsen. Menurut Ketua Badapan Pengawasan Obat dan Makanan, Husnia, pelabelan produk makanan transgenik dilakukan oleh komite keamanan pangan transgenik yang belum juga terbentuk.

“Didalam PP 28 itu tertera untuk itu ditentukan oleh Komite Pangan Hayati produk rekayasa genetik. Jadi, itu berdasarkan rekomendasi dari komite. Setelah diberikan rekomendasi, kita baru memberikan label. Karena itu, sampai sekarang kita belum melakukan itu,” tambah Husnia.

Sangatlah sulit membedakan antara produk makanan transgenik dan makanan biasa. Apalagi bagi masyarakat awam. Perbedaan itu hanya dapat dilihat melalui uji laboratorium. Tanpa pelabelan, para konsumen tidak bisa membedakan. Tiadanya pelabelan ini membuat masayarakat selalu waswas dalam membeli makanan.

“Saya denger tuh di teve. Saya aja kaget banget! Sekarang mau makan apa-apa jadi bingung!” kata Dodon, seorang warga.

Kekawatiran masyarakat seperti yang diungkapkan Dodon hanya bisa terjawab dengan adanya pelabelan semua produk makanan yang dibuat dari bahan pertanian transgenik dan pembentukan Komite Keselamatan Pangan Transgenik. Semakin lama Pemerintah menundanya, semakin banyak warga yang akan menjadi korban. (Fathiyah Wardah Alatas/E2)


(Source: vhrmedia.net)

Apr-1st-2009

Sosis Bandeng, Inovasi Makanan Tanpa Pengawet

Liputan6.com, Jakarta: Kelezatan ikan bandeng pasti sudah tidak asing lagi di lidah sebagian masyarakat Indonesia. Tapi bagaimana dengan sosis bandeng? Terinspirasi dari makanan tradisional seperti sate bandeng dan otak-otak bandeng, mendorong seorang pemuda bernama Anton memasarkan kreasi makanan sejenis dengan nama sosis bandeng. Bukan sembarangan Anton memilih nama itu. Produk sosis bandeng milik Anton bertekstur lembut tanpa duri menyerupai sosis. Sementara penampilan masih tetap seperti bentuk aslinya.

Ada kelebihannya, yakni sosis bandeng dibuat higienis. Bandengnya juga berwarna hitam dan segar yang diperoleh dari seputar pantai di Jakarta sampai Bekasi dan Cikarang. Kelebihan lainnya, sosis bandeng ini tidak menggunakan bahan pengawet. Produk sosis bandeng juga dipasarkan dalam kondisi beku. Menurut Anton, bila disimpan dalam freezer sosis bandeng itu bisa bertahan hingga tiga bulan. Sedangkan kalau di dalam kulkas awet selama sepekan. Sementara dalam suhu normal hanya bisa bertahan selama dua hari.

Anton pun memasang harga terjangkau untuk produk buatannya, yakni sebesar Rp 13 ribu hingga Rp 14 ribu. Maka tidak heran bila pria berusia 34 tahun ini dapat menjual sekitar seribu kotak setiap bulannya dengan pendapatan Rp 12 juta hingga Rp 15 juta. “Sistem pemasaran awalnya dari mulut ke mulut. Saya coba pasarkan ke teman saya, saudara-saudara, Alhamdulillah semakin lama semakin berkembang,” tutur dia.

Dengan modal awal sekitar Rp 500 ribu, Anton menjalankan usahanya sejak tahun 2006 di rumah sewa di kawasan Bekasi Timur, Jawa Barat. Diakui pria yang pernah profesi sebagai jurnalis selama delapan tahun ini, sukses usaha yang dirintisnya tak lepas dari peran pemerintah daerah setempat terutama dalam pemasaran produk. Ia kerap kali diikutsertakan dalam berbagai pameran.

Anton mengakui kendala utama dalam menjalankan usaha ini adalah modal. Namun dia tetap optimistis produk sosis bandengnya akan semakin dikenal luas masyarakat di Tanah Air. Bahkan Anton lebih mengembangkan usahanya dengan menciptakan inovasi dengan berkreasi membuat kerupuk kulit dan abon bandeng yang tidak kalah lezat dengan sosis bandeng.

(source:http://www.liputan6.com)

Apr-1st-2009

Gorengan berbumbu PLASTIK

Anda penyuka gorengan?

Tampaknya kini anda harus lebih berhati-hati lagi dalam mengkonsumsi gorengan. Telah beberapa fakta tentang gorengan yang berdampak negatif pada kesehatan. Seperti lama diketahui makanan yang digoreng dalam minyak dapat meningkatkan kolesterol, memacu timbulnya beberapa macam penyakit dan penggunaan minyak goreng berulang kali akan memicu timbulnya kanker.

Perhatikan, kalo pedagang gorengan makan gorengan yang dijualnya, mungkin dia tak gunakan plastik sebagai campuran … jika Anda tak pernah melihat pedagang itu nikmati dagangannya … berfikirlah untuk membeli

Namun masih ada lagi informasi yang mengerikan seputar gorengan yang baru saya temukan di sebuah milis. Dalam sebuah tulisan dipaparkan penggunaan meltingplastic untuk membuat gorengan lebih crispy.

Metode ini memang belum marak di Indonesia, namun tetap harus diwaspadai.

Gorengan biasanya akan melempem dan tidak crispy lagi jika diletakkan dalam udara terbuka selama beberapa waktu. Namun dengan cara memasukkan botol plastik ke dalam minyak panas yang digunakan untuk menggoreng, maka gorengan akan tetap crispy meski diletakkan di udara terbuka selama beberapa jam.

Kita harus berhati-hati jika membeli bawang goreng, pisang goreng, ayam goreng, pecel lele maupun jenis gorengan lain yang meski telah berjam-jam lalu digoreng namun tetap crispy dan tidak melempem meski diletakkan dalam udara terbuka.

Plastik dibuat dari bahan kimia jenis polimer. Jenis plastik yang banyak digunakan dalam kehidupan kita adalah polietilena (bahan pembungkus, kantong plastik, mainan anak, botol), teflon (pengganti logam, pelapis alat-alat masak), polivinilklorida (untuk pipa, alat rumah tangga, cat, piringan hitam), polistirena (bahan insulator listrik, pembungkus makanan, styrofoam, mainan anak).

Plastik untuk membungkus makanan yang masih panas saja berpotensi menimbulkan kematian jaringan dan kanker pada manusia (karsinogenik). Akan tetapi yang lebih berbahaya adalah memanaskan plastik dalam suhu tinggi. Membakar bahan yang terbuat dari plastik dapat mendatangkan masalah tersendiri bagi manusia. Plastik yang dibakar akan mengeluarkan asap toksik yang apabila dihirup dapat menyebabkan sperma menjadi tidak subur dan terjadi gangguan kesuburan. Pembakaran PVC akan mengeluarkan DEHA (bahan pelembut plastik) yang dapat mengganggu keseimbangan hormon estrogen manusia. Selain itu juga dapat mengakibatkan kerusakan kromosom dan menyebabkan bayi-bayi lahir dalam kondisi cacat.

Kondisi cuaca di Indonesia yang memiliki kelembaban tinggi memang berpotensi membuat makanan yang digoreng dan dibiarkan di udara terbuka jadi cepat melempem. Ada beberapa jenis makanan seperti kerupuk dan keripik yang bisa diletakkan dalam stoples tertutup untuk mempertahankan kerenyahannya. Namun perlakuan demikian tidak bisa diterapkan pada jenis gorengan yang lain. Alhasil ketika gorengan telah mulai mendingin kerenyahannya akan segera menghilang. Makan gorengan crispy memang lebih lezat, namun tidak sebanding dengan resiko yang harus kita tanggung.

Source: Wikimu

Mar-23rd-2009

Mewaspadai Jajanan di Sekolah

Mewaspadai Jajanan di Sekolah

Keresahan orangtua yang memiliki anak usia sekolah semakin besar. Sebab, hampir di tiap sekolah tersaji aneka jajanan yang menggunakan bahan pengawet atau zat kimiawi. Read the rest of this entry »

snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake Wordpress snowstorm powered by nksnow